Address
Jl. Lengkong No. 64-62, Cilacap, Central Java 53274
Work Hours
Monday to Friday: 08.00 WIB - 18.00 WIB
Saturday: 08.00 WIB - 12.00 WIB
Address
Jl. Lengkong No. 64-62, Cilacap, Central Java 53274
Work Hours
Monday to Friday: 08.00 WIB - 18.00 WIB
Saturday: 08.00 WIB - 12.00 WIB


Baca juga: Heating Line: Kunci Utama Akurasi Data dalam Sistem CEMS
Sistem CEMS (Continuous Emission Monitoring System) merupakan perangkat penting dalam pengawasan emisi gas buang industri yang wajib beroperasi secara terus-menerus. Sistem ini dirancang untuk memantau parameter emisi secara real-time dan menyajikan data yang akurat kepada operator maupun instansi regulator. Oleh karena itu, keberlangsungan operasi CEMS selama 24 jam sehari dan 7 hari seminggu menjadi persyaratan mutlak.
Salah satu faktor paling krusial yang menentukan keberhasilan operasional CEMS adalah sistem power supply atau sistem catu daya. Tanpa pasokan listrik yang stabil dan andal, seluruh rangkaian pengukuran, pemrosesan data, serta transmisi informasi tidak dapat berjalan dengan baik. Bahkan gangguan listrik sesaat dapat menyebabkan kehilangan data, gangguan kalibrasi analyzer, hingga kerusakan perangkat elektronik sensitif.
Artikel ini akan membahas secara komprehensif peran sistem power supply dalam menjaga operasi CEMS tetap aktif 24/7, termasuk strategi desain, komponen utama, serta dampaknya terhadap keandalan dan kepatuhan terhadap regulasi lingkungan.
CEMS terdiri dari berbagai komponen aktif yang membutuhkan suplai listrik kontinu, seperti gas analyzer, sistem pemanas jalur sampel, pompa ekstraksi gas, data acquisition system (DAS), serta perangkat komunikasi. Setiap komponen ini memiliki toleransi daya yang terbatas terhadap fluktuasi tegangan maupun gangguan listrik.
Sistem power supply berfungsi tidak hanya sebagai penyedia energi listrik, tetapi juga sebagai penjaga kualitas daya. Tegangan yang tidak stabil dapat menyebabkan kesalahan pembacaan sensor, gangguan sistem kontrol, hingga kegagalan fungsi peralatan penting. Oleh sebab itu, sistem catu daya CEMS harus dirancang dengan pendekatan berlapis untuk menjamin kontinuitas operasi.
Dalam konteks industri, kegagalan sistem power supply tidak hanya berdampak pada aspek teknis, tetapi juga pada aspek hukum dan finansial, mengingat banyak regulasi mewajibkan tingkat ketersediaan data CEMS di atas 95%.
Sumber listrik utama CEMS biasanya berasal dari jaringan listrik pabrik atau utilitas publik. Namun, tidak semua jaringan listrik memiliki kualitas daya yang ideal untuk peralatan instrumentasi.
Untuk itu, sistem distribusi listrik menuju CEMS umumnya dilengkapi dengan:
Perangkat-perangkat ini berfungsi menjaga tegangan tetap berada dalam rentang aman serta melindungi peralatan dari lonjakan arus atau noise listrik. Dengan kualitas daya yang terkontrol, umur pakai analyzer dan modul elektronik dapat lebih panjang, serta risiko kerusakan mendadak dapat diminimalkan.
Stabilitas catu daya utama menjadi fondasi pertama dalam menjaga keandalan sistem CEMS secara keseluruhan.
Uninterruptible Power Supply (UPS) merupakan komponen paling krusial dalam sistem power supply CEMS. Fungsi utama UPS adalah memberikan pasokan listrik cadangan secara instan saat terjadi gangguan pada sumber listrik utama.
UPS bekerja dengan menyimpan energi dalam baterai internal yang selalu terisi selama pasokan listrik normal tersedia. Ketika terjadi pemadaman atau penurunan kualitas daya, UPS akan langsung mengambil alih beban tanpa waktu jeda, sehingga sistem CEMS tetap beroperasi tanpa restart.
Keunggulan UPS dalam sistem CEMS meliputi:
Kapasitas UPS biasanya dirancang untuk menopang sistem selama beberapa menit hingga beberapa jam, tergantung pada kebutuhan dan skala sistem. Durasi ini cukup untuk menutupi gangguan singkat atau menunggu sistem genset mulai beroperasi.
Untuk gangguan listrik berdurasi panjang, UPS saja tidak cukup. Oleh karena itu, sistem CEMS pada fasilitas industri umumnya terintegrasi dengan generator set (genset) sebagai sumber daya cadangan jangka panjang.
Genset dilengkapi dengan Automatic Transfer Switch (ATS) yang dapat mendeteksi kegagalan pasokan listrik utama dan secara otomatis mengalihkan sumber daya ke genset setelah mesin mencapai kondisi operasi stabil.
Dengan integrasi ini, sistem CEMS dapat terus beroperasi selama:
Selama bahan bakar tersedia, genset mampu menyediakan daya selama berhari-hari, sehingga kontinuitas pengukuran emisi tetap terjaga meskipun dalam kondisi darurat.
Pada industri dengan tingkat kepatuhan regulasi yang sangat ketat, downtime CEMS hampir tidak dapat ditoleransi. Untuk itu, sistem power supply sering dirancang dengan konsep redundansi.
Konfigurasi redundansi yang umum digunakan meliputi:
Dalam skema ini, jika satu unit mengalami kegagalan, unit cadangan akan langsung mengambil alih tanpa mengganggu operasi sistem. Pendekatan ini sangat penting untuk fasilitas pembangkit listrik, kilang minyak, pabrik semen, dan industri petrokimia.
Redundansi tidak hanya meningkatkan keandalan, tetapi juga mendukung target availability system yang dipersyaratkan dalam audit lingkungan.
Sistem CEMS modern tidak hanya memantau parameter emisi, tetapi juga kondisi operasional sistem itu sendiri, termasuk status power supply.
Fitur pemantauan ini biasanya mencakup:
Informasi ini dikirim ke DAS dan dapat diakses oleh operator melalui HMI atau sistem SCADA. Jika terjadi anomali pada sistem daya, notifikasi dapat langsung diterima sehingga tindakan perbaikan dapat dilakukan sebelum terjadi downtime yang lebih besar.
Pencatatan data kondisi daya juga menjadi bagian penting dalam dokumentasi kepatuhan regulasi.
Pasokan listrik yang stabil sangat berpengaruh terhadap kualitas data CEMS. Analyzer gas memerlukan kondisi operasional yang konsisten untuk menjaga kestabilan sensor dan sistem kalibrasi internal.
Gangguan daya dapat menyebabkan:
Jika sistem pemanas atau pompa berhenti bekerja akibat kegagalan daya, maka integritas sampel gas akan terganggu, sehingga data yang dihasilkan tidak lagi merepresentasikan kondisi emisi sebenarnya.
Oleh karena itu, sistem power supply berperan langsung dalam menjaga validitas dan keandalan data pelaporan emisi.
Regulasi lingkungan di banyak negara, termasuk Indonesia, mensyaratkan ketersediaan data CEMS dengan persentase tertentu, biasanya di atas 95% dalam periode pelaporan.
Setiap downtime akibat kegagalan listrik dapat mengurangi persentase ketersediaan data dan berpotensi menimbulkan:
Dengan sistem power supply yang dirancang secara berlapis dan redundant, risiko pelanggaran akibat kehilangan data dapat diminimalkan secara signifikan.
Untuk memastikan keandalan jangka panjang, desain sistem power supply CEMS sebaiknya mempertimbangkan beberapa aspek berikut:
Pendekatan ini memastikan bahwa sistem tidak hanya andal secara teori, tetapi juga terbukti siap menghadapi kondisi lapangan yang sebenarnya.
Sistem power supply merupakan tulang punggung operasional CEMS yang sering kali tidak terlihat, namun memiliki peran yang sangat menentukan. Tanpa sistem catu daya yang stabil, berlapis, dan terpantau dengan baik, CEMS tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai alat monitoring emisi yang andal dan patuh regulasi.
Melalui kombinasi catu daya utama berkualitas, UPS, genset, konfigurasi redundansi, serta sistem pemantauan daya yang terintegrasi, CEMS dapat mempertahankan operasi 24/7 bahkan dalam kondisi gangguan listrik sekalipun.
Bagi industri yang mengandalkan CEMS sebagai bagian dari kewajiban lingkungan dan tata kelola perusahaan, investasi pada sistem power supply yang tepat bukan hanya kebutuhan teknis, tetapi juga strategi penting dalam menjaga keberlanjutan operasional dan reputasi perusahaan.
